19 Juni 2011

0

Menerobos Ombak Menghadang Bandang Posigadan

  • 19 Juni 2011
  • humas
  • Bagikan
  •  Print Page
  • Catatan: Hendra Dj

    3 Malam di Posko Bencana Alam Botuliodu

    JUMLAH desa di Kecamatan Posigadan sebanyak 19 Desa, dan hingga saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan, akibat terjangan banjir yang melanda sejumlah desa. Curah hujan pun masih tinggi, dan lautan masih bergelombang besar.

    Perjalanan pengumpulan data dimulai pada Rabu (15 Juni 2011), bersama Wakil Bupati Bolsel Drs Samir Badu MPd, serta sejumlah pimpinan SKPD, hingga ke Desa Botuliodu, namun karena jalan Desa Nunuka Raya putus, sehingga rombongan kembali ke Molibagu. Kemudian bersama Asisten I Sekda Bolsel, Kabag Humas dan staf serta seorang Kabid dari Bencana alam kembali ke Desa Botuliodu, memantau kembali Jalan Nunuka Raya yang dijebol arus sungai yang saat ini telah berpindah alirannya. Pengumpulan data di hari pertama ini terpaksa melalui jalur laut, yakni menggunakan 2 katinting, masing-masing katinting mengangkut Asisten I Sekda Bolsel didampingi Sangadi Botuliodu, dan satunya lagi digunakan Kabag Humas dan staf.

    Pertama berlabuh di Desa Nunuka Raya dan langsung melakukan pengumpulan data dan dokumentasi dimana terdapat 1 rumah terbawa arus, dilanjutkan ke Desa Tolutu, Desa Milangodaa Barat dan Milangodaa Utara, namun perjalan tak bisa dilalui lewat darat karena Jembatan Milangodaa Barat telah hanyut.

    Pengumpulan data dan dokumentasi kembali lewat laut dan berlabuh di Dusun Mongoladia Desa Pakuku Jaya, terkumpul data dan gambar; 2 rumah dan 1 pasar di dekat Jembatan Milangodaa Barat hanyut, sementara puluhan rumah rusak ringan dan berat, demikian juga dengan kondisi jalan tinggal 1 meter akibat tergerus arus.

    BUPATI Bolsel terpaksa menngunakan rakit menuju daerah bencana.
    Setibanya di Desa Botuliodu Asisten I langsung memerintahkan Sangadi Botuliodu untuk menyiapkan lokasi Posko Bantuan di Balai Desa. Selanjutnya Asisten I Sekda Bolsel bersama Kabag Humas dan staf langsung kembali ke Molibagu serta berkordinasi serta memerintahkan Dinas Sosial untuk segera mengirimkan bantuan malam itu juga. Karena debit air di Jalan Desa Biniha tak bisa dilewati kendaran, sehingga pengiriman bantuan terpaksa tidak dilanjutkan dan direncanakan dikirim lewat laut melalui Pelabuhan Dodepo, namun informasi dari Camat Posigadan Perahu Pajeko yang digunakannya tak bisa bertolak ke Dodepo karena gelombang pasang mencapai 5 meter.

    Pengiriman bantuan dilanjutkan Kamis (16 Juni 2011), Asisten I Sekda Bolsel kembali memimpin sejumlah SKPD, untuk menuju Balai Desa Botuliodu, bersama Mobil Rescue Dinas Sosial, dua truck pengangkut bahan bantuan dan tiba Sekitar Pukul 16.00 Wita serta dilanjutkan dengan menurunkan bahan bantuan.

    Selanjutnya, Dinas Sosial, Bagian Humas dan Bagian TUP diperintahkan Asisten I Sekda Bolsel, menunggu Camat Posigadan, sekaligus mengawal pendistribusian bantuan dan kembali mengecek data kerusakan bencana alam yang masuk dari sangadi dan camat. Sekitar Pukul 22.00 Wita, Bagian Humas, Bagian TUP dan Dinas Sosial dipandu Sangadi Desa Botuliodu, berinisiatif menyeberangi Desa Nunuka Raya, untuk berkordinasi dengan Sangadi Nunuka Raya, Sekdes Milangodaa Barat dan Sangadi Milangodaa Utara, tentang penyaluran bantuan.

    Setelah bermalam di Desa Botuliodu, Jumat (17 Juni 2011) pagi, Bagian Humas bersama Sangadi Botuliodu langsung mengorganisir persiapan penyaluran bantuan, setelah Camat Posigadan menginformasikan telah membawa data dan perahu pajeko untuk mengangkut bantuan. Camat tiba di Desa Botuliodu sekitar pukul 08.00 Wita, dan langsung menyerahkan data, setelah proses berita acara dilanjutkan dengan pengangkutan bahan bantuan ke Perahu Pajeko. Sekitar pukul 11.00 Wita, Camat Posigadan bersama perahu pajeko bertolak menuju ke kantor Camat di Desa Momalia I untuk menyalurkan bantuan ke Desa-desa yang terisolir dan mengalami musibah bencana alam, berdasarkan data terlampir. Pada pukul 14.30 Wita, Dinas Sosial bersama mobil rescue tiba Desa Botuliodu, dan langsung menuju ke lokasi penyaluran bantuan di desa-desa sebagaimana tercatat dalam laporan Sangadi dan camat.

    Kondisi terkini di Kecamatan Posigadan masih sangat memprihatinkan, selain curah hujan tinggi, jalan penghubung darat putus, cuaca yang ekstrim berakibat jalur laut pun masih sulit dilalui, kecuali perahu yang berukuran besar seperti pajeko dan lain-lain. Sejauh ini, air pasang laut mencapai sekitar 3 meter sehingga sulit bagi nelayan untuk melaut, air sungai masih deras. Melihat kondisi tersebut, warga Nunuka Raya dan Botuliodu telah 2 kali berinisiatif membangun penyeberangan jalan darurat dari batang pohon kelapa kendati di bawah banjir. Jalur transportasi darat penghubung antara Bolsel-Gorontalo hingga kini masih terputus, dan sejumlah desa masih terisolir. Masyarakat pun masih trauma, dan mengungsikan barang dan jiwa di tempat yang lebih aman.

    Permasalahan yang timbul akibat bencana di Kecamatan Posigadan adalah: lumpuhnya sektor perekonomian, pertanian, perkebunan, nelayan dan transportasi;

    Untuk sektor perekonomian terjadi lonjakan harga, yakni:
    -    Sembilan Bahan Pokok (Sembako) dengan harga perkilo/liter;
    -    Beras dari harga Rp 5.500 menjad Rp 7.000, dan stok beras di kios-kios sudah menipis,
    -    Minyak kelapa dari harga Rp 12.500 menjadi Rp 13.500,
    -    Telur super dari Rp 1.500 jadi Rp 2.000, telur biasa Rp 1.000 ke Rp 1.500
    -    Gula pasir dari Rp 12.000 menjadi Rp 15.000
    -    Tepung terigu dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.500
    -    Rica (cabe) sebagai komoditi andalan Posigadan justru turun dari Rp 50.000 menjadi Rp 25.000.
    -    Tomat dari Rp 6.000 menjadi Rp12.000
    -    Ikan dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000, namun tidak ada stok
    -    Garam dari Rp 750 ke Rp 1.000 perbungkus
    -    Bahan Bakar Minyak (BBM) stoknya sangat terbatas bahkan menipis;
    -    Bensin dari harga Rp 6.000 menjadi Rp 11.000,
    -    Minyak tanah dari harga Rp 4.500 menjadi Rp 6.000

    Untuk sektor pertanian, perkebunan dan perikanan, yakni:
    -    Hasil petani berupa pisang, cabe, jeruk nipis dan kopra terhambat oleh transportasi baik darat dan laut.
    -    Nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk, sehingga tak ada hasil tangkapan ikan dan pendapatan nelayan nihil.

    Untuk sektor transporatsi terjadi lonjakan harga, yakni;
    -    Tarif Jalur darat perorang;
    -    Lion-mamalia/ Mamalia-Pakuku mengunakan kendaraan roda dua dari Rp 25.000 menjadi Rp 50.000, kendaraan roda empat tidak ada
    -    Botuliodu-Molibagu menggunakan kendaraan roda empat dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000, kendaraan roda dua dari Rp 50.000 menjadi Rp 100.000.
    -    Tarif jalur laut perorang;
    -    Pakuku-botuliodu menggunakan perahu Rp 50.000, ini adalah transportasi alternatif akibat terputusnya Jembatan Milangodaa Barat dan Jembatan Nunuka Raya,
    -    Secara umum total dana yang harus dikeluarkan warga dari Gorontalo hingga ke ibukota Kabupaten Bolsel yakni Molibagu, perorang sekitar Rp 130.000 dari tarif normal Rp 60.000.

    Solusi penanggulangan bencana atas permasalahan di atas (diluar dari bantuan yang sudah disalurkan Pemkab Bolsel), sebagai berikut:
    -    Pembuatan Jembatan alternatif di Milangodaa Barat dan Nunuka Raya, bekerja sama dengan instansi terkait seperti; Dinas PU, Pemerintah Kecamatan dan desa, Forum Kordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan Zeni Tempur (Zipur) TNI AD,
    -    Pembentukan Posko Bencana dilengkapi oleh personil Serach and Rescue (SAR), Tanggap Bencana (Tagana), Satpol PP, Hansip yang semuanya dikordinir oleh Satuan Kordinator Pelaksana (Satkorlak) bencana alam,
    -    Perlu membangun kerja sama dengan pihak pertamina untuk ketersediaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM),
    -    Untuk mengantisipasi munculnya berbagai penyakit selama dan pasca bencana alam, segera diturunkan personil Dinas Kesehatan bersama obat-obatan,
    -    Perlu ditindaklanjuti dengan koordinasi dan laporan data serta gambar dokumentasi melalui instansi tehnis yakni, Badan bencana Alam Daerah, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas PU dan Bappeda kepada  pemerintah Provinsi Sulut dan Pemerintah Pusat yang terkait,
    -    Perlu dilakukan normalisasi  sungai-sungai yang ada di Kecamatan Posigadan oleh instansi terkait.(***)
    Comments
    0 Comments

    0 Responses to “Menerobos Ombak Menghadang Bandang Posigadan”

    Posting Komentar

    Disclaimer: Ini bukan situs resmi Pemkab Bolsel namun merupakan alternatif bagi yang ingin mengetahui tentang segala informasi Kab. Bolsel karena pengelola adalah Bagian Humas Setda Bolsel. Kirim saran & kritik anda ke: admin@bolsel.com