24 November 2011

1

Magis Pantai Bolsel dan Keindahan Terumbunya

  • 24 November 2011
  • humas
  • Bagikan
  •  Print Page
  • Coral akan mati meninggalkan bongkahan kalsium kapur (CaCO3) 
    berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin 
    sesuai batasan hidupnya
     (Jones et al,1998; Hoegh-Guldberg & Jones, 1999).
    acropora, teluk tomini, fotografer, taman laut putri bangsawan, Pewarta Foto (PF)-PPWI, binereang, Bolsel, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, posigadan, Humas Bolsel
    Panorama Taman Laut Putri Bangsawan yang diabadikan Toar Pantow
    Catatan: Hendra Dj

    294 KILOMETER garis Pantai di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) bukan sekedar pantai biasa, sebagai laut di kawasan teluk Tomini Kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo ini, banyak tersimpan keindahan lautnya, mulai dari tumbuhan hingga hewan laut. Tak ada keraguan berkunjung di Bolsel, karena anda dijamin dengan eksotika dan kelangkaan bawah laut.

    Sangat beralasan jika Pewarta Foto (PF) menjadikan Modisi sebagai sasaran bidik para penggila kanvas elektronik bergambar alam,  karena di sini anda dimanjakan dengan terumbu karang bersusun yang indah dan jarang didapati di tempat lain.

    Tak hanya itu, pantai nan indah yang mulai kesohor, sebut saja, Binereang, Dami dan Modisi yang berada di Kecamatan Pinolosian bersatu, serta pantai pinolantungan, Ponii dan di Kecamatan Bolaang Uki demikian juga di Kecamatan Posigadan, merupakan gagasan warga setempat yang bahu membahu membangun fasilitas kawasan pantai untuk memanjakan pengunjung baik lokal maupun manca negara.

    Inisiasi warga ini berbuah manis, pra dan paska dimekarkannya Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) sebagai daerah otonom, satu persatu mulai dikenal dan dipadati pengunjung pencinta laut. Setelah otonom, suntikan perbaikan infrastruktur berlanjut mulai dari PNPM Lingkungan hingga Pemkab Bolsel.

    PF Kupas Tuntas Modisi
    Perlahan namun pasti, garis pantai Bolsel mulai dilirik para juru kamera, seperti Gerakan Peduli Lingkungan lewat Foto 2011, dalam ekspedisi bertajuk 12 Days Exploratory photo ekspedtion, 11-23 November 2011, dengan rute Sangihe, Minahasa dan Bolmong , Kamis (17/11) lalu, menjeljahi habis-habisan Pantai Modisi.

    Tak pelak, expedisi yang digagas Pewarta Foto (PF)-PPWI yang dikomandani Roni Buol, langsung memberikan sejumlah catatan penting, diantaranya Taman Laut Putri Bangsawan merupakan taman yang masih alami, belum terjamah dan perlu dilestarikan. “Taman Laut Putri Bangsawan menyimpan keindahan seperti Acropora, belum lagi ikan duyung (Dugong), ini perlu dijaga habitatnya agar Dugong bisa terbiasa dengan pengunjung,” kata Roni penuh kagum.
    acropora, pantai ponii, teluk tomini, fotografer, taman laut putri bangsawan, Pewarta Foto (PF)-PPWI, binereang, Bolsel, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, posigadan, Humas Bolsel
    Taman Laut Putri Bangsanwan di Pantai Modisi Desa Batu Hamba Kecamatan Pinolisian-Bolsel dipotret Toar Pantow
    Ekspedisi ini menurut Roni selaku kordinator team, sengaja mencari tempat unik dan belum terjamah fotografer lainnya, dan selang  dua hari berada di Bolmong khusunya di Bolsel ini, PF sangat terkesan dengan terumbu karang di Taman Laut Putri bangsawan ini. “Kami juga sengaja datang untuk melihat langsung Dugong (Putri Duyung) yang saat ini mulai langka, dan mungkin tinggal ada di Pantai Modisi ini,” kata Roni.

    Dijelaskan Roni, PF ekspedisi ini melibatkan 70 fotografer namun dibagi dalam tiga tim, dan khusus di Pantai Modisi ini menurunkan 14 fotografer dan ada beberapa nama yang dikenal master di bidangnya, diantaranya Toar Pantow dan Yudo Maramis  spesialis fotografer underwater. Toar sendiri usai menyelam dan melakukan pemotretan menyatakan, taman laut sangat indah dan luar biasa karena masih alami dan belum terjamah manusia.

    “Di sini kami masih bisa melihat Acropora sebuah terumbu karang bersusun piring, terumbu karang seperti ini sudah tak ada di tempat lain,” tegas Toar sembari membeber ada hama chots atau warga lokal menyebutnya sopa, yang bisa mengancam terumbu karang di Taman laut Putri Bangsawan Pantai Modisi. Selain itu, ada beberapa terumbu karang yang rusak akibat bom ikan, sehingga PF bersama PNPM Lingkungan, ikut memberikan masukan kepada warga agar menjaganya.

    Warga sendiri berterima kasih kepada pihak PF yang telah meluangkan waktu mengeksplorasi Taman laut ini, dan berharap bisa dipromosikan sehingga warga di sekitar Pantai Modisi ikut mendapat manfaat dari ekowisata ini. Warga juga meminta perhatian Pemerintah Kabupten (Pemkab) Bolsel, untuk terus meningkatkan Pantai Modisi, sementara pihak PNPM Lingkungan melalui Dharman Daeng Matara mengatakan, pihaknya 2009 bersama warga membangun pantai modisi, kemudian tahun berikutnya mendapat bantuan Pemkab untuk membangun pantai andalan Bolsel ini.

    Hama Terumbu Karang dan Isu Pemanasan Global
    Pemanasan global yang saat ini terjadi bukan hanya mengancam kehidupan manusia di atas permukaan tanah, namun juga mengancam ekosistem terumbu karang di bawah laut. Pemanasan global menyebabkan naiknya suhu dan permukaan air laut. Dasar lautan yang semakin dalam menyebabkan sinar matahari semakin sulit untuk menjangkau tempat hidup Algae dan coral.

    Hal ini tentu akan menganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosintesis, yang akhirnya berdampak pada pasokan nutrisi dan warna karang serta dapat memicu produksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka. Coral akan mati meninggalkan bongkahan kalsium kapur (CaCO3) berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin sesuai batasan hidupnya (Jones et al., 1998; Hoegh-Guldberg dan Jones, 1999).
    acropora, pinolantungan, teluk tomini, fotografer, taman laut putri bangsawan, Pewarta Foto (PF)-PPWI, binereang, Bolsel, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, posigadan, Humas Bolsel
    Hasil jepretan Jodha Tindas di Taman Laut Putri Bangsawan
    Demikian isu Pemanasan Global terhadap kerusakan terumbu karang berupa pemutihan pada terumbu, sempat mengusik sejumlah pencinta laut, sebagaimana dilansir SEA DRAGON sebuah situs dunia maya pemerhati Biologi, kelautan dan lingkungan. Banyak yang mengiyakan namun banyak juga belum yakin dengan penemuan ini, dan di Pantai Modisi semua itu terbantahkan.

    PF/PPWI dalam ekspedisi di Modisi ini, menghadirkan seorang Master Fotografer Underwater, Toar Pantow yang sejak awal tak begitu yakin dengan isu pemanasan global yang di posting di internet. Alasan yang dikemukannya cukup mendasar, karena saat memotret di taman Putri Bangsawan, Toar menyaksikan langsung adanya hama bernama Chot atau warga lokal menyebutnya Sopa. Hama ini, perusak terumbu sehingga jika tak dilakukan pencegahan dini, bukan tidak mungkin terumbu karang di Modisi  terancam punah.

    Penemuan Toar ini mematahkan anggapan seperti naiknya suhu dan permukaan air laut pada dasarnya merupakan dua kendala yang menjadi penyebab kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Kendala tersebut juga memberikan dampak serius pada ekologi samudera dan yang paling penting ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat tinggal berbagai macam mahluk hidup samudera.

    Hewan karang akan menjadi stres apabila terjadi kenaikan suhu lebih dari 2-3 derajat celcius di atas suhu air laut normal. Pada saat stress, pigmen warna (Alga bersel satu atau zooxanthellae) yang melekat pada tubuhnya akan pergi ataupun mati sehingga menyebabkan terjadinya bleaching (pemutihan).

    Secara Biologis 70-80 persen karang menggantungkan makanan pada alga tersebut, jadi mereka akan mengalami kelaparan ataupun kematian. Bila penyebab stress tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan kematian secara besar-besaran terhadap terumbu karang tersebut.

    Faktor-faktor penyebab pemucatan karang. Faktor-faktor tersebut meliputi: kenaikan suhu air laut, penurunan suhu air laut, radiasi sinar matahari (termasuk sinar ultraviolet dan PAR), kombinasi antara kenaikan suhu dan radiasi sinar matahari, penurunan salinitas dan infeksi bakteri.

    Perubahan salinitas yang drastis dan pendedahan terhadap logam tertentu atau bahan beracun juga dapat menyebabkan pemucatan karang (Hoegh-Guldberg1999). Radiasi sinar matahari (UV dan PAR) secara sinergis menyebabkan karang lebih mudah menderita pemucatan melalui pembentukan oksigen radikal. Karang yang terdedah pada radiasi sinar UV berlebihan mengalami pemucatan sebelum suhunya cukup panas untuk menyebabkan pemucatan karang (Goreau and Hayes 2005).
    acropora, teluk tomini, fotografer, taman laut putri bangsawan, Pewarta Foto (PF)-PPWI, binereang, Bolsel, Bolaang Mongondow Selatan, Pinolosian, posigadan, Humas Bolsel
    Eksotika bawah laut Taman Putri Bangsawan-Pantai Modisi hasil bidikan Jodha Tindas
    Karang yang sedang mengalami stress kenaikan suhu air sangat sensitif terhadap radiasi sinar matahari.Mayoritas pemutihan karang secara besar-besaran dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungan dengan peningkatan suhu permukaan laut (SPL) dan khususnya pada HotSpots (Hoegh-Guldberg, 1999).

    Hot Spot adalah daerah dimana SPL naik hingga melebihi maksimal perkiraan tahunan (suhu tertinggi pertahun dari rata-rata selama 10 tahun) dilokasi tersebut (Goreau dan Hayes, 1994). Apabila HotSpot dari 1°C diatas maksimal tahunan bertahan selama 10 minggu atau lebih, pemutihan pasti terjadi.

    Dampak gabungan dari tingginya SPL dan tingginya tingkat sinar matahari (pada gelombang panjang ultraviolet) dapat mempercepat proses pemutihan dengan mengalahkan mekanisme alami karang untuk melindungi dirinya sendiri dari sinar matahari yang berlebihan. (Glynn, 1996; Schick et al., 1996; Jones et al., 1998).

    Peristiwa pemutihan karang dalam skala besar dipengaruhi oleh naik-turunnya SPL, dimana pemutihan dalam skala kecil seringkali disebabkan karena tekanan langsung dari manusia (contohnya polusi) yang berpengaruh pada karang dalam skala kecil yang terlokalisir. Pada saat pemanasan dan dampak langsung manusia terjadi bersamaan, satu sama lain dapat saling mengganggu.

    Koloni karang yang telah memutih, baik yang mati seluruhnya atau hanya sebagian, lebih rapuh (rentan) terhadap perkembangan Algae yang berlebihan, penyakit dan organisme karang yang menjangkiti kerangka dan melemahkan struktur terumbu karang. Hasilnya adalah bilamana kematian tinggi, terumbu yang memutih berubah secara cepat dari warna putih salju menjadi abu-abu kecoklatan pupus seiring dengan perkembangan Algae menutupi mereka.

    Bila dampak pemutihan yang terjadi sangat parah, alga yang berkembang secara ekstensif dapat mencegah rekolonisasi karang-karang baru yang secara dramatis merubah pola-pola keanekaragaman jenis karang dan menyebabkan restrukturisasi komunitas tersebut.

    Hal di atas menggambarkan bahwa ekosistem laut seperti terumbu karang sangat rentan terhadap pemanasan global, yang pada akhirnya akan berdampak pada seluruh umat manusia di muka bumi, terutama kelompok masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Nelayan dan kaum miskin di wilayah pesisir akan menjadi korbannya. Jika terumbu karang mati maka ikan pun akan pergi.

    Hingga saat ini nelayan sudah semakin sulit menentukan kapan sebaiknya melaut karena ”musim” ikan semakin sulit diprediksi. Oleh karena itu, diperlukan adanya berbagai usaha untuk mengurangi pemanasan global di muka bumi ini.

    Jadi, jika ingin membuktikan apakah dampak pemanasan global yang mengakibatkan pemutihan pada terumbu karang laut, silahkan datang di Pantai Modisi dan menyelam di Taman Laut Putri Bangsawan, maka anda akan menemukan fakta ilmiah yang memukau. Karena terlihat jelas ada hama laut yang sedang menggerogoti kehidupan samudera, dan ini bisa dijadikan referensi keilmuan pencinta laut di mana pun berada.(***)
    Comments
    1 Comments

    1 Responses to “Magis Pantai Bolsel dan Keindahan Terumbunya”

    Saharudin Pakaya mengatakan...
    29 Januari 2014 18.49

    mantap... semoga bisa dikelolah dengan baik,,, agar menjadi aset daerah untuk meningkatkan PAD ... sehingga kemajuanlah yang akan tercapai di kabuapaten BOLSEL... :)


    Posting Komentar

    Disclaimer: Ini bukan situs resmi Pemkab Bolsel namun merupakan alternatif bagi yang ingin mengetahui tentang segala informasi Kab. Bolsel karena pengelola adalah Bagian Humas Setda Bolsel. Kirim saran & kritik anda ke: admin@bolsel.com