02 Desember 2011

0

Kayu Bernilai Emas di Gemericik Hulu DAS Pinolosian

  • 02 Desember 2011
  • humas
  • Bagikan
  •  Print Page
  •  “Sudah gaharu, cendana pula”
    PEMBIBITAN; kayu gaharu yang bernilai emas.
    Air beriak tanda tak dalam
    tak berlaku di Hulu

    Sungai Pinolosian,
    di sini daratannya begitu

    dalam menyimpan potensi
    alam luar biasa.   

    Oleh: Hendra Dj

    MENJEJAL panorama alam di Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) memang tak ada ruginya, selain akses jalan diapit langsung Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), sepanjang jalan juga tersuguh gemericik Daerah Aliran Sungai (DAS) alami, belum lagi kicauan merdu burung-burung endemik.

    Perjalanan yang tak menguras keringat ini, juga membuat mata anda tak bisa berkedip, kala menelusuri perjalanan dengan indah bakau dan pantai yang aduhai. Yang bikin menarik adalah satu nama “Gaharu”, sebuah kayu langka yang paling dicari
    .
    Energi yang dikeluarkan tak mubazir, setelah berada di Kecamatan Pinolosian dan menerobos hutan yang dikenal penuh ragam hayati, tersimpan banyak kekayaan alam. Baru di hulu sungai Pinolosian, langkah terhenti menyaksikan deretan kayu langka bernama latin spesis grynops, begitu mempesona mata dan tentunya bikin ngiler karena gaharu merupakan kayu termahal.

    Perjalanan penuh debu dinaungi terik, sebanding lurus dengan harga Gaharu yang  kaya manfaat dan banyak kegunaan, baik dalam industri mebel dan utamanya sebagai bahan dasar obat, parfum serta ritual agam bahkan persenjataan

    "Saat ini Kayu tersebut tengah dalam proses pembibitan," kata Usman Liputo ketua kelompok Tani Peduli Hutan Lentera Bolsel (KTPHLB). Liputo sangat mendukung kayu Gaharu dilestarikan, agar dapat dinikmati anak cucu tujuh hingga sepuluh tahun ke depan.

    Hutan Bolsel bakal menjadi primadona, dan menjadi salah satu unggulan di Sulut bahkan Indonesia, jika Gaharu ini mampu dikembangkan sebagai tanaman khusus, apalagi jika Pemerintah Kabupaten Bolsel konsen membudidayakanya.

    Kayu Bernilai Emas
     “Sudah gaharu, cendana pula”. Itulah pepatah yang menggambarkan bahwa kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran. Kayu cendana maupun gaharu (dari genus Aquilaria spp) merupakan kekayaan sumber daya alam dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi.

    Dari sisi etimologi Gaharu berarti harum yang berasal dari bahasa Melayu, atau dari Bahasa Sansekerta ‘aguru’, berarti ‘kayu berat (tenggelam)’, sebagai produk damar, atau resin dengan aroma keharuman yang khas.

    Gaharu merupakan Komoditi Elit, Langka & Bernilai Ekonomi Tinggi sebagaimana dilansir sebuah situs bertitel wahana gaharu.

    Gaharu merupakan produk ekspor. Tujuan ekspor adalah negara-negara di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Singapore, Taiwan, Jepang, Malaysia, karena kandungan kimia yang terdapat dalam gaharu merupakan komponen yang terdiri dari sesquiterpenes, sesquiter-pene alcohol, kompoun oxygenated dan chromone. Selain itu, juga terdiri dari komponen-komponen agarospiral, jinkohol-eramol, jinkool yang menghasilkan aroma gaharu.

    Penggunaan kayu dalam industri perkayuaan di mana kayunya digunakan dalam industri pembuatan kotak pembungkus, papan lapis, cenderamata, perabot, sarung senjata, chopstick dan lain-lain. Gaharu digunakan dalam upacara keagamaan Cina, Ayurvedic dan upacara kaum di Tibet. Gaharu digunakan sebagai pengharum rumah di Timur Tengah , di Papua New Guinea digunakan sebagai obat-obatan tradisional oleh masyarakatnya. Di masa sekarang gaharu juga digunakan sebagai bahan minyak wangi dan kosmetik.

    Gaharu yang bernilai emas ini adalah salah satu komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) komersial yang bernilai jual tinggi. Bentuk produk gaharu merupakan hasil alami dari kawasan hutan berupa cacahan, gumpalan atau bubuk. Nilai komersial gaharu sangat ditentukan oleh keharuman yang dapat diketahui melalui warna serta aroma kayu bila dibakar.

    Gaharu sering digunakan untuk mengharumkan tubuh dengan cara pembakaran (fumigasi) dan pada upacara ritual keagamaan. Gaharu dengan naloewood, merupakan substansi aromatik (aromatic resin), berupa gumpalan atau padatan berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman, terbentuk pada lapisan dalam dari kayu tertentu.

    Gaharu dikenal sejak abad ke 7 di wilayah Assam India, berasal dari jenis Aqularia agaloccha rotb, digunakan terbatas sebagai bahan pengharum dengan melalui cara fumigasi (pembakaran).. Kini, gaharu boleh juga di dapat dari jenis tumbuhan lain famili Thymeleaceae, Leguminaceae, dan Euphorbiaceae yang dijumpai di wilayah hutan Cina, daratan Indochina (Myanmar dan Thailand), Malay Peninsula (Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina), serta Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Mataram dan beberapa daerah lainnya), termasuk Aceh.

    Di Indonesia gaharu mulai dikenal sejak tahun 1200an sejak adanya pertukaran dagangan (barter trade) antara ‘Palembang dan Pontianak’ dengan Kwang Tung di daratan China. Menurut I.H. Burkill, perdagangan gaharu Indonesia sudah dikenal sejak lebih dari 600 tahun silam semasa Pemerintah Hindia Belanda dan Portugis, yang dikirim ke Negara Cina, Taiwan dan Saudi Arabia (Timur Tengah). Puncak ekspornya antara 1918 – 1925 dan masa penjajahan Hindia Belanda volumenya, sekitar 11 ton/tahun.

    Setelah merdeka, ekspor gaharu terus meningkat tidak hanya ke Cina, tetapi juga sampai ke Korea, Jepang, Amerika Serikat dan Timur Tengah. Lepas itu, ekspor gaharu dari Indonesia sempat tercatat lebih dari 100 ton pada tahun 1985. Menurut laporan Harian Suara Pembaruan (12 Januari 2003), pada periode 1990 – 1998, tercatat volume eksport gaharu mencapai 165 ton dengan nilai US $ 2,000,000. Lalu, pada periode 1999 – 2000 meningkat menjadi 456 ton dengan nilai US $ 2,200,000. Tetapi akhir tahun 2000 sampai akhir tahun 2002, turun hingga 30 ton dengan nilai US $ 600,000.

    Gaharu dalam Ritual Agama dan Obat
    Apa guna gaharu? Gaharu mempunyai kandungan resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma dengan keharuman yang khas. Bahkan diperlukan sebagai bahan baku industri parfum, obat-obatan, kosmetik, dupa, dan pengawet berbagai jenis asesoris serta untuk keperluan kegiatan agama bagi pemeluk Islam, Budha, dan Hindu. Seiringnya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu berguna sebagai bahan ubat-ubatan. Menurut Raintree(1996), gaharu dipakai sebagai obat anti asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan.

    Dalam khazanah etnobotani di Cina, digunakan sebagai obat sakit perut, perangsang nafsu birahi, penghilang rasa sakit, barah, diare, tersedak, ginjal tumor paru-paru dan lain-lain. Di Eropa, diperuntukkan sebagai obat barah. Di India, digunakan sebagai obat tumor usus. Di beberapa Negara seperti Singapura, Cina, Korea, Jepun, dan Amerika Syarikat sudah dikembangkan sebagai obat-obatan seperti penghilang stress, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa. Bahkan Asoasiasi Eksportir Gaharu Indonesia (ASGARIN) melaporkan bahawa Negara-negara di Eropa dan India sudah memanfaatkan gaharu tersebut untuk pengobatan tumor dan kanker.

    Di Papua, gaharu sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakat setempat untuk pengobatan. Mereka mengggunakan bagian dari pohon penghasil gaharu (daun, kulit batang, dan akar) sebagai obat malaria. Sementara air sulingang (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menghasilkan minyak atsiri) yang sangat bermanfaat untuk merawat wajah dan menghaluskan kulit.(***)
    Comments
    0 Comments

    0 Responses to “Kayu Bernilai Emas di Gemericik Hulu DAS Pinolosian”

    Posting Komentar

    Disclaimer: Ini bukan situs resmi Pemkab Bolsel namun merupakan alternatif bagi yang ingin mengetahui tentang segala informasi Kab. Bolsel karena pengelola adalah Bagian Humas Setda Bolsel. Kirim saran & kritik anda ke: admin@bolsel.com